Kamis, 02 Juni 2011

Teori Belajar Sosial Walter Mischel

Teori Belajar Sosial Kognitif Walter Mischel 
                      
     a.    Biografi Walter Mischel
Lahir di Wina, Austria pada 22 Februari 1930. Bersama kakaknya Teodore awalnya jadi filsuf tumbuh di lingkungan kondusif tak jauh dari rumah Freud. Masa indahnya terenggut ketika Nazi menginvansi Austria pada 1938. Kemudian Mischel dan kelurganya pindah ke USA sampai akhirnya menetap di Broklyn sampai masa SD dan SMP-nya. Sebelum sempat kuliah, ayahnya sakit dan Walter terpaksa bekrja serabutan sampai akhirnya dia berhasil kuliah di New York University. Dia sangat tertarik pada seni lukis juga patung dan berbagi hidup menjadi seniman, juga mahasiswa psikologi di Greenwich Village.
Saat perkuliahan ia muak dengan dosen yang selalu mengajarkan teori psikologi melalui eksperimen tikus yang menurutnya jauh dari manusia. Setelah lulus dia melanjutkan program MA psikologi klinis City College of New York. Sembari mengerjakan tesisnya, dia bekerja sosial di kawasan kumuh Lower East Side, sebuah pekerjaan yang membuatnya ragu dengan manfaat psikoanalitik. Perkembangan psikologi sosial kognitifnya memuncak saat mengambil studi doktoral di Ohio State University pada 1953-1956. Kala itu di kampusnya terbagi menjadi dua kubu, kubu Julian Rotter dan kubu George Kelly. Dia lebih memilih tidak memihak manapun. Namun belajar dari keduanya. Rotter mengajarkan pentingnya riset sedangkan Kelly mengajarinya eksperimen manusia haruslah memperhatikan aspek kognitif dan perasaan.
Selanjutnya Mischel mengajar 2 tahun di Colorado University. Lalu bergabung dengan Departemen Hubungan Sosial di Havard dan akhirnya menetap di Columbia University. Di Havard ia bertemu Harriet Nerlove dan menikahinya.
Karya pertamanya adalah Personality and Assesment (1968). Dia menerangkan bahwa pada kondisi yang tepat orang sanggup memprediksi perilaku mereka tanpa harus menjalani tes. Sifat adalah alat prediksi perilaku yang sangat lemah karena situasilah yang mempengaruhi perilaku. Karya terbaiknya adalah Introduction to Personality (1971) dan sudah direvisi ke-7 pada 2004.
b.    Latar Belakang Teori Sistem Kepribadian Afektif Kognitif
Esyenk, dan Allport yakin jika perilaku adalah produk sifat kepribadian yang relatif stabil. Namun Mischel merasa keberatan dengan asumsi ini. Risetnya malah membutnya percaya bahwa perilaku merupakan fungsi dan situasi. 
Paradoks Konsistensi
Mischel melihat bahwa semua orang baik psikolog atau orang awam yakin secara intutif bahwa perilaku manusia relatif konsisten (Paradoks Konsistensi), padahal bukti empiris menunjukkan keberagaman situasi. Banyak orang dan psikolog mendeskripsikan kejujuran, loyalitas agresifitas dan sifat-sifat lainnya adalah penentu perilaku. Mischel tidak sependapat dalam hal ini. Beberapa riset malah gagal mendukung paradoks konsistensi. Perilaku itu bergantung pada situasi, ada kalanya siswa yang jujur malah menyontek saat ujian, padahal dia tidak pernah mencuri atau suka berbohong.
Interaksi antara Situasi dan Kepribadian
Seiring berjalannya waktu, Mischel (1973, 2004) melihat bahwa manusia bukan wadah kosong tanpa sifat-sifat kepribadian. Dia mulai mengakui sebagian besar orang memiliki konsistensi tertentu dalam perilaku mereka, meski dia terus menekanakan bahwa situasi memiliki efek yang sangat penting pada perilaku. Perilaku disebabakan oleh sifat-sifat personal secara global saja, namun oleh persepsi orang terhadap dirinya pada situasi tertentu. Misalnya seorang lelaki yang biasanya malu di depan para gadis, dapat bersikap terbuka dan terang-terangan bila di antara laki-laki atau perempuan yang lebih tua. Jadi sebenarnya ekstrovert atau intrivert ?. Menurut Mischel kedua disposisi itu adalah miliknya tergantung kondisi dan situasinya.
Pandangan kondisional ini yakin bahwa perilaku dibentuk oleh disposisi pribadi dan proses kognitif-afektif tertentu. Jika teori sifat yakin disposisi global adalah penentu utama perilaku, maka Mischel yakin kepercayaan, nilai, tujuan, kognisi dan perasaan seseorang berinteraksi disposisi-disposisi itulah penentu utama perilaku.
Sistem Kepribadian Afektif Kognitif
Mischel dan Shoda yakin kalau sistem kepribadian afektif-kognitif yang disebut juga sistem pemroresan afektif-kognitif adalah penyebab keberagaman perilaku seseorang dalam situasi yang berbeda, keragaman perilaku seseorang dalam situasi yang berbeda walaupun sifatnya relatif stabil untuk waktu cukup lama. Variasi perilaku dapat dikonsepsikan sebagai : Jika A maka X namun jika B maka Y. Contohnya jika sesorang pria merasa tertekan isterinya, maka dia akan beraksi dengan agresi, Namun ketika variebel jika berubah, variabel maka juga berubah. Jika sang suami ditekan sang bos maka reaksinya adalah kepatuhan. Perilaku suami ini dengan stimulus sama (ditekan)  menghasilkan respon yang berbeda.
Prediksi Perilaku.
Prediksi perilaku dinyatakan sebagai berikut. Jika kepribadian merupakan sistem stabil yang terus memproses informasi situasi eksternal dan internal, maka ketika individu mengahadapi situasi berbeda, perilaku mereka bisa tetap atau berubah. Konsep ini menyatakan bahwa prediksi perilaku bersandar sepenuhnya kepada pengetahuan tentang bagaimana dan kapan beragam unit kognitif dan afektif diaktifkan. Unit afektif dan kognitif ini meliputi pengkodean, ekspektansi, keyakinan, kompetensi, rencana dan strategi pengaturan diri, konsekunesi dan tujuan.
Variabel-Variabel Situasi
Mischel yakin bahwa pengaruh relatif variabel-variabel situasi dan sifat pribadi dapat ditemukan dengan mengamati keseragaman dan keragaman respon seseorang pada situasi tertentu. Ketika pribadi yang berbeda bersikap dengan cara yang mirip, misalkan saat melihat film yang emosional, maka variabel situasi akan jauh lebih kuat dibandingkan dengan karakteristik pribadi. Di sisi lain kejadian yang sama menghasilkan respon yang berbeda, misalnya beberapa pekerja bisa saja mengundurkan diri, namun perbedaan individual akan mengarah kepada perilaku yang beragam tergantung kebutuhan akan pekerjaan. Orang akan membentuk perilakunya sesuai situasi, contohnya menunggu antrian di dokter yang membosankan akan ‘diakal-akali’ (kognitif) dengan mendengar musik atau main game agar lebih menyenangkan (afektif).
c.      Unit-Unit Afektif dan Kognitif
Tahun 1973 Mischel menemukan variebel kepribadian yang relatif stabil, tumpang tindih dan berinteraksi dengan situasi yang menentukan perilaku. Kelima variabel itu adalah strategi pengkodean, kompetensi dan starategi pengaturan diri, ekspektansi dan keyakinan, tujuan dan nilai, dan respon-respon afektif.
Strategi Pengkodean
Yaitu cara manusia mengkategorikan informasi yang diterimanya dari stimuli eksternal. Manusia menggunakan proses kognitif unutk mengubah stimuli menjadi konstruk kepribadian mereka; yaitu cara mereka memandang diri, orang lain dan dunia.
Contoh: seseorang mungkin bereaksi dengan amarah saat dihina, sementara orang lain malah mengabaikannya.
Beberapa kompetensi dan Strategi Pengaturan Diri
Keyakinan terhadap apa yang bisa dilakukan berkaitan erat dengan kompetensi (Mischel, 1990), mengacu pada susunan luas informasi yang diperoleh manusia. Mischel setuju dengan Bandura bahwa manusia tidak bisa memahami semua stimuli hanya dapat mengkontruksi secara selektif atau membangkitkan versi kita mengetahui mengenai dunia nyata.
Contoh: Seseorang mahasiswa yang berbakat mungkin percaya dia memiliki kompetensi bisa lulus, namun tak pernah tahu apa macam dan isi soalnya persis.
Bandura dan Mischel yakin manusia menggunakan self regulatory strategies unutk mengontrol perilaku melalui tujuan yang ditetapkannya sendiri (Self imposed goals) dan konsekunsi yang dibuatnya sendiri (self produce consecunces). Manusia tak perlu penghargaan eksternal atau hukuman untuk membentuk perilaku, mereka menentukan sendiri tujuan hidupnya dan menghargai usahanya sendiri atau mengkritik tindakannya sendiri (Fiest, Jess, & Fiest Gregory, 2008 terj.)
Ekspektansi dan Keyakinan
Pengetahuan mengenai prediksi kekuatan yang dimiliki terhadap keyakinan akan hasil dan situasi tertentu adalah prediktor perilaku yang lebih baik dari pada pengetahuan tentang kemampuan bertindak (Mischel, 2002).
Dari pengalamannya, manusia belajar mewujudkan perilaku tertentu yang mereka harapkan. Ketika tidak tahu apa yang harus dilakukan manusia akan cenderung melakukan sesuatu sesuai dengan pengaharapan pada pengalamannya di masa lalu.
Contohnya ketika mahasiswa yang tidak pernah mengikuti tes pasca sarjana pasti pernah mempersiapkan diri untuk tes yang lain; dia berharap bentuk teknik belajar yang sama berhasil saat ujian pasca sarjana yang belum berpengalaman.  Mischel menyebutnya dengan behaviour outcome expectancy.
Manusia juga sering menggunakan kerangka “jika”…. “Maka”. Jika saya mendekatinya dengan cara yang sebelumnya saya lakukan kepada orang lain, maka saya dengan cara itu berharap dia akan mau.
Mischel juga mengidentifikasikan jenis kedua ekspektansi, ekspekatansi terhadap hasil stimulus (Stmimulus-outcome expectancy), yang mengacu pada banyaknya kondisi stimulus yang mempengaruhi konsekuensi. Ekspektansi ini membantu memprediksi kejadian yang paling mungkin muncul apda situasi tertentu.
Contohnya seorang anak yang sudah dikondisikan mengaitkan rasa sakit dengan perawat di rumah sakit akan mulai menangis dan ketakutan saat melihat perawat mamandangnya.
Tujuan dan Nilai
Manusia bereaksi aktif terhadap situasi. Mereka menentukan tujuan, rencana untuk mencapainya. Contohnya dua oarang mahasiswa mungkin memiliki prestasi akademik yang sama, dan ekpektansi terhadap lulus kuliah sama besar, namun nilai yang dipegang berbeda, mahasiswa satu mangartikan berhasil dengan nilai masksimal, sedangkan mahasiswa yang lain mengartikan berhasil dengan mendapatkan pekerjaan setelah lulus.
Nilai, tujuan, minat, dan kompetensi adalah unit afektif kognitif yang paling stabil. Penyabab konsistennya adalah kadar kemunculan emosi. Contohnya seseorang bisa menempatkan nilai negatif pada makanan tertentu karena makanan itu berkaitan dengan rasa mual yang pernah dirasakannya dulu. Nilai patriotik yang tertanampun sama.
Respon-Respon Afektif
Respon afektif mencakup perasaan dan rekasi fisiologis lainnya.  Konsep kognitif tidak terpisah dari afektif, contohnya saat pengkodean orang akan menggunakan sisi kognitif dan afektif secara bersamaan. Contohnya “saya memandang saya sebagai orang yang baik dan saya bangga dengan itu”. Dengan cara yang sama kompetensi dan strategi untuk mengatasi masalah, keyakinan dan ekpektansi tujuan dan nilai seseorang semuanya diwarnai respon afektif (Mischel & Shoda, 1995 dalam Theories of Personality).

Reference
Feist Jess & Feist J. Gregory. Theories of Personalits. Terj. Santoso, Yudi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar